Stats

Tampilkan postingan dengan label Banyak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banyak. Tampilkan semua postingan

04 Juli 2011

Banyak Minum Alkohol Terkait Risiko Pneumonia

New York (ANTARA News) - Penelitian baru dari Denmark, menunjukkan bahwa peminum berat  alkohol lebih sering berakhir di rumah sakit karena pneumonia (radang paru-paru) daripada mereka yang berhati-hati pada alkohol.

Tetapi, hanya peminum terbanyak - pria yang mengatakan mereka minum lebih dari 50 minuman dalam seminggu - yang berisiko lebih tinggi terkena infeksi.

Penelitian itu bukan yang pertama menggambarkan garis antara alkohol dan pneumonia. Para peneliti belum yakin bahwa minum alkohol menimbulkan pneumonia - alkohol bisa dikaitkan dengan penyakit kronos seperti liver dan gangguan jantung, contohnya.

Dalam laporan belum lama ini, Dr Reimar Wernich Thomsen, dari Aarhus University Hospital, dan rekan-rekannya menggunakan data dari penelitian penelitian luas kesehatan Denmark, termasuk lebih dari 45.000 orang berusia 50 hingga 64 tahun, yang tidak pernah mengidap pneumonia.

Semua partisipan mengisi survei pada awal penelitian, yang termasuk pertanyaan mengenai seberapa sering mereka minum bir, anggur dan minuman keras. Para perempuan dilaporkan rata-rata minum enam minuman setiap minggu, sementara para pria mengatakan mereka mereka minum 12 minuman per minggu.

Selama 12 tahun ke depan, kira-kira empat persen peserta masuk rumah sakit karena pneumonia.

Para peneliti melaporkan dalam "European Respiratory Journal", tanpa memperhatikan seberapa banyak mereka mengatakan mereka minum, mulai dari nol hingga lebih dari 35 minuman setiap minggu - para perempuan memiliki risiko pneumonia serupa.

Bagaimanapun juga, pria yang minum lebih dari 50 minuman setiap minggu kira-kira 80 persen lebih cenderung masuk rumah sakit karena pneumonia daripada mereka yang minum antara satu dan enam setiap minggu, setelah menghitung faktor seperti merokok dan berat badan.

Kira-kira satu dari tiga puluh pria minum dengan cukup untuk menempatkan dirinya dalam kategori itu.

Saat Thomsen dan rekan-rekannya juga memperkirakan penyakit kronis lain yang dikembangkan pria, kaitan antara alkohol dan pneumonia tetap ada, tetapi lebih lemah.

"Gagasan umumnya adalah alkohol merusak sistem kekebalan, setiap bagian sistem kekebalan," kata Dr. Andriy Samokhvalov, dari Toronto's Center for Addiction and Mental Health, yang tidak terlibat dalam penelitian baru, seperti dikutip Reuters.

Bila minum secara berlebihan mengantar pada pneumonia, seberapa banyak tepatnya minuman yang dibutuhkan seseorang untuk meningkatkan risiko masih belum pasti. Dan, itu tidak membantu karena penelitian mengandalkan laporan konsumsi minum mereka sendiri, yang akan memperlemah hasilnya.

Berdasarkan Samokhvalov,"Kami pikir seharusnya ada ambang penerimaan isyarat mengenai minum empat kali per hari."

Baik pria dan wanita memiliki risiko pneumonia lebih tinggi bila mereka jarang  minum dalam dosis tinggi, daripada mabuk selama seminggu.

Para peneliti setuju masuk akal bila orang yang mabuk-mabukan dan tidak sadar akan menghambat sistem kekebalan mereka.

Dr. Marjolein de Wit, mengatakan bahwa orang yang sering minum juga memiliki risiko lebih tinggi mendapat infeksi seperti pneumonia di rumah sakit saat mereka mengaku untuk alasan lain. Dan, saat mereka terinfeksi, risiko kematian mereka lebih tinggi. De Wit mempelejari alkohol dan penyakit kritis di Virginia Commonwealth University di Richmond.
(ENY)



View the Original article
Continue Reading »

Petir Lebih Banyak Menyambar Pria Daripada Wanita

Petir Lebih Banyak Menyambar Pria Daripada Wanita

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.



img
(Foto: thinkstock)Jakarta, Pada dasarnya petir bisa menyambar apapun yang bisa menghantarkan muatan listriknya ke tanah. Namun pada manusia, jenis kelamin mempengaruhi risiko tersambar petir karena menurut penelitian lebih dari 80 persen korban tewas adalah pria.

Kecenderungan ini terungkap dalam sebuah data yang dirilis oleh situs ramalan cuaca, AccuWeather.com baru-baru ini. Data ini mengungkap sedikitnya ada 948 orang tewas tersambar petir antara tahun 1995-2008, 82 persen di antaranya berjenis kelamin pria.

Secara fisik, sebenarnya tidak ada perbedaan anatomi maupun komposisi kimiawi tubuh yang membuat pria lebih rentan sambaran petir dibanding wanita. Perbedaan risiko tewas tersambar petir lebih dipengaruhi oleh naluri dan perilaku saat berada dalam bahaya.

"Pria cenderung terlalu berani ambil risiko saat terjadi badai petir. Misalnya saat olahraga di luar ruangan lalu ada petir, pria lebih jarang buru-buru berteduh," ungkap John Jensenius dari National Weather Service, seperti dikutip dari LaTimes, Kamis (30/6/2011).

Tahun ini saja, di Amerika Serikat sudah ada 6 korban tewas tersambar petir dan seluruhnya berjenis kelamin pria. Sebagian besar terjadi saat beraktivitas di luar ruangan, termasuk seorang pria 26 tahun yang sedang main baseball di California pada 21 Juni 2011 dan seorang pria 49 tahun yang sedang main golf di Shreveport, Lousiana pada 7 Juni 2011.

Selain jenis kelamin, usia juga berhubungan dengan risiko tersambar petir karena menurut AccuWeather.com korban tewas paling banyak berasal dari kelompok usia 10-19 tahun. Alasannya cukup masuk akal, karena anak sekolah lebih banyak bermain dan beraktivitas di luar ruangan.

Kombinasi unik antara 2 faktor yakni jenis kelamin dan usia dalam mempengaruhi risiko sambaran petir teramati dalam salah satu kasus yang terjadi di Pinellas County, Florida pada Juli 2007. Dalam peristiwa itu, sambaran petir menewaskan seorang remaja pria 16 tahun.

Saat kejadian, remaja tersebut sedang berjalan kaki besama ibunya. Petir menyambar tepat di dada sang remaja pria yang langsung tak sadarkan diri, sebelum tewas 4 hari kemudian sementara ibunya yang berjalan di sampingnya sama sekali tidak mengalami luka serius.

Badai petir sering terjadi di Amerika Serikat dengan korban tewas rata-rata 10 orang/tahun dan cedera 30 orang/tahun. Sebagian besar kasus yang memakan korban tewas yakni 70 persen terjadi antara bulan Juni-Agustus, sementara Florida merupakan negara bagian yang paling sering disambar petir.

(up/ir)



View the Original article
Continue Reading »

Pecandu Narkoba Banyak Berawal dari Kecanduan Rokok

Pecandu Narkoba Banyak Berawal dari Kecanduan Rokok

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.



img
foto: ThinkstockLos Angeles, Kecanduan alkohol dan obat terlarang pada remaja berhubungan erat dengan kebiasaan merokok. Diyakini 1 dari 4 pecandu narkoba berawal dari kecanduan rokok, sementara 90 persen di antaranya mulai kecanduan sejak di bawah umur 18 tahun.

Penelitian terbaru yang dilakukan National Center on Addiction and Substance Abuse (CASA) menunjukkan 90 persen pecandu narkoba (narkotika dan bahan bebahaya) di Amerika Serikat mulai kecanduan sebelum usai 18 tahun. Artinya masa SMA paling rentan penyalahgunaan narkoba.

Menariknya, 1 dari 4 pecandu atau 25 persen mulai mencoba-coba narkoba sejak mengenal rokok. Karena itu, para ahli di CASA sepakat bahwa kebiasaan merokok pada anak remaja bisa menjadi indikator paling kuat untuk memprediksi penyalahgunaan narkoba di kemudian hari.

Dalam penelitian yang melibatkan 17.809 remaja berusia di atas 12 tahun ini, terungkap bahwa remaja yang merokok lebih rentan penyalahgunaan berbagai jenis narkoba. Risiko kecanduan ganja lebih tinggi 7 kali lipat, kokain 14 kali lipat dan heroin 16 kali lipat.

Untuk sekedar coba-coba, remaja di usia 12-15 tahun yang merokok 44 kali lebih rentan mengenal heroin dibandingkan yang tidak merokok. Pengaruh rokok di usia ini 2 kali lebih besar dibandingkan usia 50 tahun ke atas, dalam kaitannya dengan penyalahgunaan heroin.

"Otak masih berkembang hingga umur 25 tahun. Jika pada masa itu otak sudah mengenal nikotin, rokok akan jadi pintu gerbang untuk kecanduan senyawa lain khususnya alkohol dan obat terlarang," ungkap Dr Stanton Glantz dari University of California seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Kamis (30/6/2011).

Kokain, serbuk putih yang berasal dari tanaman coca (Erythroxylum coca) merupakan jenis narkoba paling banyak disalahgunakan di kalangan perokok. Karena belakangan jumlah perokok di kalangan SMA meningkat, diyakini pengguna kokain di masa depan juga akan bertambah.

(up/ir)



View the Original article
Continue Reading »

24 Maret 2011

Penderita Ginjal Banyak Meninggal Karena Jantung

Merry Wahyuningsih - detikHealth

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)Jakarta, Sebelum sampai pada tahap dialisis atau cuci darah, pasien yang mengalami penyakit ginjal kronik ternyata lebih banyak meninggal karena penyakit jantung, bukan karena ginjalnya.

Penyakit ginjal kronik saat ini mendapat lebih banyak perhatian karena sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu keadaan dimana ginjal mengalami kelainan struktur atau gangguan fungsi yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan.

Selain itu, seseorang dikatakan PGK bila fungsi ginjalnya yang diukur dengan estimasi laju filtrasi glomerular (eLFG) kurang dari 60 mL/menit.

"Ginjal sebenarnya tidak menyebabkan kematian, yang membuat orang meninggal karena jantungnya berhenti, kalau ginjalnya mati kan bisa didialisis. Oleh karena itu, lebih banyak orang PGK yang meninggal karena penyakit jantung sebelum mencapai gangguan ginjal tahap terminal (stadium akhir)," jelas Prof. Dr. dr. Suhardjono, SpPD-KGH, KGer, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) dalam acara Temu Media 'Pentingnya Kontrol Tekanan Darah pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik' di Bebek Bengil Resto, Jakarta, Senin (21/3/2011).

Menurut Prof Jhon, pasien PGK tahap awal mempunyai risiko 5 sampai 10 kali lipat meninggal karena kejadian jantung dibandingkan pasien gangguan jantung terminal yang harus menjalani dialisis (cuci darah).

Pasien PGK juga memiliki risiko penyakit jantung 20 kali lipat dibandingkan dengan orang normal.

Mengapa demikian?

dr. Dharmeizar, SpPD-KGH dari Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM menjelaskan, ketika seseorang mengalami kelainan ginjal maka akan terjadi kelainan-kelainan yang bisa menyebabkan kerusakan di jantung, seperti anemia (kekurangan darah), toksin uremik, hiperkalemia (kadar kalium darah tinggi), malnutrisi, peradangan kronik, yang akhirnya menyebabkan gangguan metabolisme kalsium dan folat sehingga lama-lama menyebabkan kerusakan di jantung.

"Oleh karena itu, lebih banyak orang PGK yang meninggal karena penyakit jantung bukan karena ginjalnya," lanjur dr. Dharmeizar.

dr. Dharmeizar menjelaskan, banyak orang yang tidak menyadari dirinya menderita PGK karena memang PGK biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala umum.

"Kebanyakan pasien sudah datang pada stadium lanjut dan menunjukkan gejala seperti muntah-muntah, sesak napas karena kelebihan cairan di paru-paru, mual, pucat, bengkak-bengkak," jelas dr. Dharmeizar.

Padahal sebenarnya, lanjut dr. Dharmeizar, PGk dapat dicegah dan diperlambat.

Bagaimana mencegah PGK?

"PGK umumnya tidak bergejala, jadi yang bisa dilakukan adalah cukup dengan tes urine sederhana yang harganya relatif murah," jelas dr. Dharmeizar.

PGK bisa dideteksi dengan tes urine sederhana untuk mengukur kadar protein dalam urine. Bila protein urine positif dan terjadi selama lebih dari 3 bulan maka orang tersebut bisa dikatakan mengalami penyakit ginjal kronik.

Bila pada tes urine ditemukan kadar kreatin positif maka orang tersebut sudah mengalami PGK tingkat lanjut.

Selain itu perlu juga dilakukan pemeriksaan laboratorium berkala, yaitu

Urin lengkapUreum dan kreatininGula darahKolesterol, LDL-kolesterol, trigliserid
Apa saja penyebab PGK?

Prof Jhon menjelaskan PGK paling banyak disebabkan karena beberapa hal berikut:

HipertensiDiabetes MellitusInfeksi sistemikInfeksi saluran kemihBatu ginjalToksin obatRadang glomerulus (glomerulonefritis) kronis
Bagaimana memperlambat PGK?

1. Mengatur diet dengan:
Cukup kalori (35 kal/kg/hari)
Kurangi protein (0.6 - 0.75 gr/kg/hari)
Asupan garam dikurangi
Jumlah air minum disesuaikan

2. Mengontrol tekanan darah
3. Mengontrol kadar gula darah
4. Mengontrol kolesterol darah
5. Meningkatkan Hb
6. Stop merokok
7. Mengobati infeksi saluran kemih
8. Operasi batu saluran kemih

(mer/ir)


View the Original article
Continue Reading »

Tinja Manusia Paling Banyak Mencemari Air Tanah

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.




foto: ThinkstockDepok, Ada berbagai jenis polutan yang bisa mencemari air dan membuatnya tidak layak untuk diminum. Meski logam berat relatif lebih berbahaya, material organik yang berasal dari tinja tetap merupakan penyumbang polusi air yang paling besar.

"Feses (tinja) paling banyak mencemari air. Rata-rata manusia memproduksi feses antara 150 hingga 200 gram/hari," ungkap pakar kesehatan lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sumengen Sutomo, MPH, DrPH, Senin (21/3/2011).

Ditemui dalam seminar "Pencemaran Air Minum: Dampak Kesehatan dan Solusinya" di kampus FKM UI Depok, Sumengen mengatakan tinja manusia mengandung berbagai kuman patogen atau penyebab penyakit.

Jenis kuman yang sering ditemukan dalam tiap gram feses antara lain sebagai berikut.

Salmonella (1 juta kuman) Vibrio kolera (1 juta kuman) Virus poliomeylitis (1 juta kuman) Amoeba (10.000 kuman) Escherichia coli (1 miliar kuman)
Sementara itu pakar lainnya dari FKM UI, Dr Ir Setyo Sarwanto Mursidik mengatakan dalam 5 tahun terakhir 80-90 persen sumur di Jakarta tercemar Escherichia coli. Meski tidak terlalu berbahaya, keberadaan E.coli selalu dijadikan indikator bahwa air tersebut tercemar oleh tinja.

Air yang tercemar tinja manusia bisa memicu 2 jenis penyakit, yakni water-borne disease dan water-washed disease. Water-borne disease dipicu oleh air yang diminum misalnya diare, kolera dan disenteri, sementara water-washed disease dipicu oleh air untuk mandi misalnya infeksi kulit.

Meski lebih banyak, luas penyebaran polutan mikrobiologis umumnya lebih rendah dibandingkan polutan kimia. Jika polutan kimia bisa meresap hingga kedalaman 95 meter dan radius 9 meter, kuman-kuman dalam tinja hanya bisa meresap 4-11 meter dan radius 2 meter.

Karena itu pencegahannya juga lebih mudah, yakni dengan memastikan septic tank dan sumur terisolasi dengan baik. Jika sudah terisolasi, maka jarak septictank dengan sumur sudah tidak perlu menjadi masalah terutama di wilayah padat penduduk seperti di perkotaan.

Selain itu, pemanasan air minum dinilai sudah cukup efektif untuk membunuh polutan mikrobiologis. Es batu yang digunakan di warung-warung pinggir jalan seringkali masih tercemar E.coli karena berasal dari air mentah yang tidak dimasak sebelum dibekukan.

(up/ir)


View the Original article
Continue Reading »