Stats

Tampilkan postingan dengan label Dikonsumsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dikonsumsi. Tampilkan semua postingan

04 Juli 2011

Susu Coklat Baik Dikonsumsi Sehabis Olahraga

London (ANTARA News) - Setelah berolahraga biasanya orang mengonsumsi minuman olahraga isotonik. Tetapi, dua penelitian baru dari University of Texas di Austin menunjukkan bahwa susu coklat ideal untuk dikonsumsi setelah berolahraga.

"Para atlet serius dan amatir dengan cara yang sama menikmati manfaat pemulihan fisik saat mereka minum susu coklat setelah berolahraga penuh semangat," kata pemimpin penelitian Dr John Ivy.

"Manfaat bagi para partisipan penelitian adalah komposisi tubuh lebih baik dalam bentuk lebih banyak otot dan lebih sedikit lemak, meningkatkan waktu saat berolahraga dan secara keseluruhan lebih banyak bentuk fisik daripada mereka yang mengonsumsi minuman olahraga yang hanya mengandung karbohidrat."

Mereka meminta 10 pengendara sepeda terlatih untuk berkendara selama 90 menit dalam intensitas sedang, kemudian selama 10 menit dalam jeda intensitas tinggi.

Para ilmuwan menemukan bahwa para atlet memliki lebih banyak tenaga dan berkendara lebih cepat (mengurangi waktu berkendara mereka rata-rata enam menit) saat mereka mengonsumsi susu coklat rendah lemak daripada minuman olahraga berkarbohidrat atau minuman bebas kalori.

Tim itu juga menguji 32 pengendara sepeda amatir pria dan wanita, menempatkan mereka melalui sesi putaran kuat dalam satu minggu diikuti oleh satu dari tiga minuman.

Mereka menemukan setelah jam dan setengah minggu pengonsumsi susu coklat meningakatkan serapan oksigen maksimal dua kali lipat dibandingkan dengan yang lain.

"Kami belum benar-benar paham apa mekanisme yang menyababkan susu coklat rendah lemak untuk memberi manfaat ini pada para atlet, yang akan melakukan lebih banyak penelitian," kata Dr Ivy.

"Tetapi, ada sesuatu dalam protein yang muncul secara alami dan campuran karbohidrat yang menawarkan manfaat penting lain."

Dr Ivy menambahkan bahwa pemulihan selama tiga menit setelah olahraga, bagi orang-orang dalam segala tingkat kebugaran, sepenting suplemen nutrisi.

Penelitian itu dipublikasikan dalam "Journal of Strenght and COnditioning Research."
(ENY)



View the Original article
Continue Reading »

24 Maret 2011

Penyedap Rasa yang Aman Dikonsumsi


. (Foto: Getty Images)

SELAMA ini mungkin Anda ragu untuk menambahkan monosodium glutamate (MSG) untuk membuat gurih masakan. Jangan khawatir, dalam takaran yang wajar, penyedap rasa ini aman untuk kesehatan.

Penyedap rasa yang mengandung monosodium glutamate (MSG) dikenal ampuh sebagai senjata pamungkas untuk membuat hidangan lebih lezat. Namun banyak yang masih mempertanyakan soal efek glutamate terhadap kesehatan. Karena selama ini muncul asumsi bahwa MSG membahayakan kesehatan.

Menjawab soal keamanan MSG, Prof Dr Ir H Hardinsyah MS, pakar nutrisi dari Institut Pertanian Bogor memastikan bahwa masyarakat tak perlu takut menggunakan MSG sebagai penyedap masakan.

Berdasarkan penelitian dan pengujian, produk ini terbukti aman dikonsumsi. Untuk membuat MSG di Indonesia, diperlukan glukosa yang diambil dari tetes tebu ataupun tapioca yang diproses secara fermentasi. MSG yang merupakan singkatan dari Mono Sodium Glutamat dibuat pertama kali di Jepang pada tahun 1909.

Perusahaan pertama yang memproduksi secara massal adalah Ajinomoto. Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan masakan dari masyarakat yang terus meningkat, kemudian muncullah merk-merk dagang MSG lainnya.

MSG berawal dari penelitian Prof Kikunae Ikeda (1908) yang menemukan bahwa Glutamat merupakan sumber rasa gurih (dalam bahasa jepang disebut umami). Dia berhasil mengisolasi glutamat dari kaldu rumput laut (Kombu).

Setahun kemudian Saburosuke Suzuki mengkomersialkan glutamat yang diisolasi oleh Ikeda. MSG tersusun atas 78 persen Glutamat, 12 persen Natrium, dan 10 persen air. Kandungan glutamat yang tinggi itulah yang menyebabkan MSG sanggup memberikan rasa gurih.

Glutamat itu sendiri termasuk dalam kelompok asam amino non esensial penyusun protein yang terdapat juga dalam bahan makanan lain seperti daging, susu, keju, tomat, ASI dan dalam tubuh kita pun mengandung glutamat.

Glutamat dari MSG maupun dari bahan lainnya dapat dimetabolime dengan baik oleh tubuh dan sebagian besar digunakan sebagai sumber energi usus halus. Fakta bahwa MSG aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek negatif bagi kesehatan sayangnya tidak diketahui oleh banyak masyarakat.

Badan-badan kesehatan dunia saat ini seperti Gabungan FAO/WHO bidang bahan pangan (JEFCA), Komunitas Kesehatan Eropa, United State Food and Drug Association (US FDA) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) pun mengamini hal tersebut, karena menyatakan aspek keamanan nya dan memberikan batas asupan harian dalam penggunaan MSG secukupnya.

Tidak ada penetapan angka dalam penggunaanya. Hal ini karena batasan itu sudah ditentukan dengan sendirinya oleh lidah kita yang dapat merasakan kecukupan rasa gurih yang diinginkan.

Di Amerika, pengunaan MSG dimasukan dalam kategori GRAS (Generally Recognized as Safe) sama seperti penggunaan garam, cuka dan soda kue dalam makanan kita. Penilitian terbaru bahkan membuktikan penggunaan MSG dalam makanan dapat mengurangi konsumsi garam dapur 20-40 persen dengan tetap mempertahankan rasa enak dan lezat makanan tersebut.

Hal ini dapat membantu mereka-mereka yang harus berdiet rendah garam untuk mengurangi risiko hipertensi dan jantung dengan tetap memberikan rasa yang enak dan nutrisi yang baik dalam masakan tersebut.

(SINDO//nsa) 40 Tahun Martha Tilaar Martha Tilaar Luncurkan "Womanology" Rabu, 25 November 2009 - 05:04 wib Dewi Arta - Okezone

View the Original article
Continue Reading »