Stats

Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker. Tampilkan semua postingan

05 Juli 2011

Cegah Kanker, Makan Pepaya

Jakarta (ANTARA News) - Beberapa buah buahan dikenal memiliki bnayk manfaat, sehingga mereka disebut buah super. Kini ada satu buah yang lebih super dan dikenal berguna untuk mencegah kanker, yaitu buah Pepaya.

Pepaya adalah salah satu buah yang mengandung lycophene, yang dikenal sebagai zat yang sangat efektif dalam mencegah dan memerangi penyebaran sel kanker.

Seperti dikutip dari Menshealth, penelitian baru- baru ini menemukan bahwa lycophene menstimulasi tingkat dari sel pertahanan di dalam tubuh untuk melawan kanker. Hal ini bisa mencegah kerusakan DNA dan menghambat penyebaran kanker.

Para peneliti dari dari universitas Florida menemukan bahwa Pepaya efektif sebagai agen anti kanker untuk melawan jenis kanker seperti rahim, payudara, hati, paru-paru dan pankreas. Hasil dari penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Ethnopharmacology.

Hal ini diketahui setelah para peneliti mengadakan pengujian menggunakan teh yang dibuat dari ekstrak daun pepaya kering. Buah itu dikenal bisa meningkatkan zat kimia yang mengatur sistem kekebalan tubuh.

Dr Nam Dang dari Universitas Florida mengatakan bahwa ekstra pepaya yang diuji di laboratorium ini tak memiliki efek samping beracun terhadap sel yang normal. Sehingga kemungkinannya ia bisa digunakan sebagai obat alternatif. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menentukan efek yang dihasilkannya jika ia masuk kedalam tubuh.

Dalam hal kandungan lycophene, ternyata Pepaya juga memiliki kandungan lain berupa sumber vitamin C, potasium dan asam folat yang membuatnya menjadi buah yang sangat menyehatkan.

Buah buahan lainnya dan sayuran yang mengandung lycophene yang cukup baik adalah tomat, semangka, anggur, dan secara umum makanan yang mengandung lycophene memiliki daging yang penuh warna.(*)
(yud)




View the Original article
Continue Reading »

Daging Berpengawet Tidak Terkait dengan Kanker Pankreas

London (ANTARA News) - Penelitian baru mengatakan tidak ada tanda jelas bahwa makan daging berpengawet seperti ham, daging asap atau hot dogs bisa meningkatkan kemungkinana menderita kanker pankreas.

Seperti dikutip dari Reuters, beberapa riset menunjukkan bahwa mungkin kasusnya, karena pengawet yang digunakan untuk mengawetkan, nitrat dan nitrit, menyebabkan tumor pada hewan percobaan.

Para ilmuwan sudah melakukan penyelidikan untuk mengenai faktor-faktor yang bisa memicu kanker pankreas. Setiap tahun, sebanyak 43.000 orang Amerika didiagnosa menderita penyakit itu, dan 95 persen meninggal dalam lima tahun.

"Pencegahan benar-benar cara terbaik untuk menyelamatkan satu nyawa," kata Dr. Daniel Chang, seorang spesialis kanker di Universitas Stanford di Palo Alto, California, yang tidak terlibat dalam penelitian baru itu.

Untuk menyelidiki peran unsur kimia pengawet, para peneliti dari National Cancer Institute menggunakan kuesioner 124 jenis makanan untuk mengetes seberapa banyak nitrat dan nitrit yang diperoleh orang dari pola makan mereka.

Diantara lebih dari 300.000 orang yang mengisi kuesioner, hanya lebih dari 1.000, kira-kira sepertiga dari satu persen, mengembangkan kanker pankreas selama 10 tahun ke depan.

Berdasarkan penelitian, para pria yang paling banyak makan bahan pengawet tampak memiliki peluang lebih besar untuk mengidap penyakit itu, tetapi kenaikannya sangat kecil mungkin juga karena kebetulan. Tidak ada petunjuk dari risiko lebih besar di antara perempuan.

Penelitian baru itu menambahkan bukti pertumbuhan tubuh yang gagal mengaitkan kanker pankreas dengan makanan atau gizi tertentu, seperti diet serat dan vitamin D.

"Kami tidak memiliki kecenderungan konsisten dari penelitian yang menunjukkan bahwa makan lebih banyak bahan ini atau lebih sedikit jelas berkontribusi dengan risiko kanker pankreas," kata Dr. Andrew Ko, seorang peneliti kanker di University of California, San Francisco.

Para penulis, yang laporannya dipublikasikan dalam "American Journal of Epidemiology", tidak bisa dimintai komentar.

Tanpa memperhatikan apakah daging yang diawetkan terkait dengan kanker pankreas, para pakar mengatakan penelitian tidak berarti orang tidak harus berjuang untuk makan makanan sehat kaya buah-buahan dan sayuran, dan sedikit makanan berlemak seperti daging berpengawet.

"Ada sejumlah alasan bagus untuk menerapkan kebiasaan meningkatkan pola makan - tidak hanya demi pencegahan kanker," kata Dr. Al Benson, seorang pakar kanker di Feinberg School of Medicine Northwestern University di Chicago, Amerika Serikat. "Kami secara rutin merekomendasikan orang-orang membatasi asupan makanan berlemak, dan banyak dari produk hewani ini juga mengandung nitrit dan garam nitrat."

Merokok, makan banyak gula, dan menjadi kelebihan berat badan semua dikaitkan pada risiko lebih tingi kanker pankreas dalam penelitian sebelumnya.

"Umumnya, yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk mencegah kanker pankreas dan kanker lainnya, adalah untuk mendorong orang-orang menghindari rokok, menghindari obesitas, dan menerapkan kebiasaan pola makan yang ditingkatkan."
(ENY)

View the Original article
Continue Reading »

04 Juli 2011

Menikahlah, Biar Cepat Sembuh Kanker

Jakarta (ANTARA News)- Menikah merupakan salah satu momen terindah dalam hidup. Meski begitu, banyak para pengidap kanker yang bertahan hidup itu takut untuk menikah karena mereka takut menyia-nyiakan waktunya dan hal itu akan mengganggu hubungan yang lain.

Faktanya, berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di AS, para pasien kanker akan meningkatkan kesempatan sembuh dari sel ganas itu dari tubuh mereka dengan menikah.

Seperti dikutip dari Daily Mail, penelitian yang dilakukan oleh Penn State College of Medicine dan Brigham Young University, Inggris mengungkapkan bahwa pasien kanker yang menikah memiliki 14 pernsen lebih rendah akan resiko kematiannya. Hal ini terjadi baik pada pria maupun wanita.

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa kondisi pasien dapat didiagnosis lebih awal. Dan ada juga memiliki keinginan lebih agresif untuk menjalani perawatan seperti kemoterapi.

Meski begitu, para peneliti belum paham bagaimana institusi perkawinan dapat menolong para pasien kanker untuk bertahan. Mereka berspekulasi, rekannya dapat menjaga dan mendorong semangat guna mengatasi penyakit itu.

Menurut Sven Wilson, wakil pimpinan dan professor Brigham Young University, kunci yang paling penting dari proses penyembuhan adalah dengan mengendalikan tahap dimana penyakit kanker itu terdeteksi. Hal inilah yang mendasari ke tahap selanjutnya setelah diagnosis.

"Dengan seorang rekan, pasien akan terbantu dalam menentukan jenis dari masalahnya,sehingga mereka akan dengan cepat bisa mengambil tindakan," Ujarnya.

Tapi sayangnya, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Epidemologi tak menguji perbandingan kesehatan dari orang yang mengidap kanker yang sudah menikah dan belum menikah.
(yud)

View the Original article
Continue Reading »

Ilmuwan Temukan Obat Ajaib untuk Kanker

Jakarta (ANTARA News) - Sebuah "obat ajaib" untuk penyakit kanker payudara dikabarkan dapat menjadi senjata universal untuk melawan tumor, ungkap para ilmuwan Inggris.

Seperti dikutip dari Daily Mail Mereka telah menemukan sebuah cara membuat varian pil obat kanker payudara yang efektif untuk melawan jenis kanker lainnya.

Temuan itu mengantarkan pada sebuah obat baru yang menyerap lebih banyak bahkan semuanya pada semua tipe tumor, ujar para ilmuwan di Universitas Newcastle.

Mereka menambahkan, efek samping seperti mual dan kelelahan lebih sedikit.

Pusat perangsangan dalam keluarga obat kanker yang dikenal sebagai PARP penghalang pertumbuhan, yang mempengaruhi cara sel tumor memperbaiki diri mereka.

Obat ini menyasar bentuk turunan dari kanker payudara, yang berlaku juga pada kanker kelenjar prostat dan tumor pankreas dengan gen berbahaya yang sama.

Obat itu merupakan minat khusus dari dokter karena mereka memberantas habis tumor dan membunuhnya tanpa membahayakan kesehatan sel.

Hal ini berarti para pasien menderita efek samping lebih sedikit ketimbang mereka melakukan kemoterapi atau radioterapi, dimana sel yang sehat terpengaruh.

Obat itu menggali "achilles" tumit dari bentuk turunan kanker payudara. Hal itu disebabkan oleh kerusakan dalam sebuah gen yang disebut BRCA1, yang membatasi kemampuan sel itu untuk memperbaiki pada DNA mereka.

Kesehatan sel memliki dua cara dalam menghadang kerusakan -yang memungkinkannya untuk beranak pinak, tumbuh dan menyebar- tetapi sel di BRCA tumor hanya memiliki satu buah.

Penghalang pertumbuhan PARP menghambat sisa jalur itu, menghentikan sel tumor menggandakan diri, akhirnya mengantarkannya pada kematian. Beberapa tumor payudara, mulut rahim dan prostat dihancurkan gen BRCA tetapi dalam hitungan proporsi kecil dari semua kanker.

Penelitian itu akan memungkinkan obat digunakan pada tumor yang tak memiliki kerusakan genetik ini, yang secara efektif "menciptakan kembali" kerusakan itu.

Dalam eksperimen pada tikus yang mengidap tumor paru-paru, para peneliti menunjukan penghadangan sebuah molekul yang disebut Cdk1 juga menghentikan perbaikan DNA.

Ketika binatang itu diberikan sebuah penghalang pertumbuhan PARP, Hal itu dengan sukses membasmi kanker, demikian laporan jurnal Nature medicine.

Peneliti Professor Nicola Curtin mengatakan "Menghadang Cdk1 membantu perbaikan DNA dalam sel kanker, membuat mereka sensitif pada penghalang pertumbuhan PARP".

"Kami juga mampu menunjukan bahwa pendekatan ini hanya menyasar sel kanker.`Kini kami butuh untuk mengembangkan sebuah obat yang efektif yang dapat menghadang Cdk1, sehingga banyak pasien dapat dibantu dari perawatan dengan penghalang pertumbuhan PARP. Hal itu secara luas bisa diterapkan, kemungkinannya secara universal.

"Faktanya lebih bahwa kerusakan itu membuat sel rentan terhadap penghambat pertumbuhan PARP dapat diciptakan ulang dalam kanker paru-paru yang sangat memungkinkan."

"Ini masih sangat dini tetapi ini cukup menarik".

Dr Lesley Walker, dari pusat penelitian kanker Inggris,yang mendanai penelitian itu mengatakan "kami memiliki sebuah alat baru yang ampuh untuk merawat pasien kanker," katanya.(*)
(yud)

View the Original article
Continue Reading »

Berjemur Bisa Mengurangi Risiko Kanker Payudara

London (ANTARA News) - Penelitian baru menyebutkan menghabiskan rata-rata tiga jam sehari terpapar sinar matahari bisa mengurangi risiko kanker payudara hingga 50 persen.

Penelitian itu dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, seperti dikutip Daily Mail. Riset itu merupakan yang terkini dalam serangkaian studi yang menunjukkan paparan sinar matahari secara rutin bisa memiliki efek anti-kanker dengan merangsang produksi vitamin D dalam kulit.

Tes laboratorium menunjukkan sel-sel payudara mampu mengubah vitamin D menjadi hormon yang memiliki sifat anti-kanker. Para peneliti Kanada membandingkan 3.101 penderita kanker payudara dengan 3.471 perempuan sehat yang tidak mengidap tumor.

Setiap partisipan ditanya seberapa banyak waktu yang mereka habiskan di luar ruangan antara April dan Oktober selama empat tahap hidup mereka: masa remaja, usia dua puluhan dan tiga puluhan, empat puluhan dan lima puluhan dan dari usia 60 hingga 74.

Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan yang setidaknya terpapar sinar matahari 21 jam dalam satu minggu dalam masa remaja mereka 29 persen kecenderungan untuk mengidap kanker lebih sedikit daripada mereka yang mendapat sinar matahari satu jam sehari.

Bagi perempuan yang menghabiskan waktu paling banyak di luar ruangan pada usia empat puluhan dan lima puluhan, risikonya turun 26 persen dan bagi mereka yang diatas 60 tahun, sinar matahari mengurangi risiko tumor sebanyak 50 persen.

Sementara itu, satu penelitian menemukan para pria yang mendapat jumlah vitamin D yang direkomendasikan kecenderungan untuk mendapat serangan jantung atau stroke lebih sedikit.

Riset yang dilakukan di Amerika Serikat itu mengikuti hampir 119.000 orang dewasa selama dua dekade. Hasilnya menemukan bahwa para pria yang setidaknya mendapat 600 IU (International Unit) vitamin D vitamin D per hari 16 persen lebih sedikit kemungkinannya untuk mengambangkan gangguan jantung atau stroke daripada para pria yang mendapat kurang dari 100 IU. Tetapi, para periset di Harvard School of Public Health tidak menemukan pola itu di antara perempuan,

IU merupakan satuan untuk mengukur aktivitas biologi, pengaruh atau senyawa dalam ilmu farmasi).

Para pakar memperingatkan kedua penemuan itu harus berimbang dalam pengertian risiko kanker kulit dari paparan sinar matahari.
(ENY)

View the Original article
Continue Reading »

CT Scan Bisa Membantu Deteksi Kanker Paru

CT Scan Bisa Membantu Deteksi Kanker Paru

Vera Farah Bararah - detikHealth

Your browser does not support iframes.



img
(Foto: thinkstock)Boston, Kanker paru termasuk salah satu jenis kanker yang masih sulit dideteksi. Kini studi menemukan bahwa melakukan pemeriksaan CT-scan bisa membantu mendeteksi kanker paru.

Hasil uji klinis yang dilakukan oleh peneliti dari UCLA terhadap 53.000 orang di 33 lokasi berbeda menemukan bahwa dosis rendah dari CT bisa mengurangi jumlah kematian akibat kanker paru pada perokok sebesar 20 persen.

"Hal ini mungkin menjadi sesuatu yang penting bagi kanker paru dalam satu dekade terakhir," ujar Dr Bruce Johnson dari Dana-Farber Cancer Institute di Boston, seperti dikutip dari CNN, Kamis (30/6/2011).

Para ahli menuturkan seseorang yang tergolong perokok berat dan baru berhenti merokok kurang dari 15 tahun lalu serta berusia antara 55-74 tahun disarankan untuk melakukan pemeriksaan kanker paru-paru dengan menggunakan CT scan.

"Ada cara lain yang secara signifikan bisa mengurangi risiko kaematian akibat kanker paru-paru, jika tidak pernah merokok maka jangan memulai tapi jika merokok segeralah berhenti," ujar Johnson.

Scan yang dilakukan lebih mungkin menemukan tumor yang relatif masih kecil sehingga meningkatkan kemungkinan pasien untuk sembuh dan bertahan hidup, serta mengurangi angka kematian akibat kanker.

Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine, dan dibutuhkan studi lebih lanjut untuk mengetahui apakah CT scan nantinya bisa menjadi pedoman dalam melakukan skrining untuk kanker paru-paru.

Kanker paru-paru merupakan salah satu jenis kanker yang banyak menyebabkan kematian bagi laki-laki maupun perempuan, tapi belum ada cara yang baik untuk mendeteksinya. Untuk itu diharapkan pemeriksaan CT scan bisa menjadi cara dalam mendeteksi kanker paru yang ada.

Penyebab utama kanker paru-paru adalah merokok baik karena perokok aktif atau perokok pasif. Sedangkan penyebab lainnya adalah kontaminasi udara sekitar oleh zat asbes, polusi udara oleh asap kendaraan ataupun pembakaran termasuk asap rokok.

(ver/ir)



View the Original article
Continue Reading »

03 Juli 2011

Cacing Pita di Sungai Mekong Menularkan Kanker

Cacing Pita di Sungai Mekong Menularkan Kanker

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.



img
(Foto: thinkstock)Jakarta, Infeksi cacing parasit biasanya hanya membuat korbannya kurang gizi karena bisa mencuri nutrisi dari makanan yang dikonsumsi. Namun sejenis cacing pita di Thailand meresahkan warga setempat karena bisa memicu kanker di saluran empedu.

Cacing tersebut ditemukan di sepanjang Sungai Mekong yang mengalir di wilayah Thailand timur laut, melewati Vietnam, Laos, Kamboja, Korea dan China. Diduga cacing tersebut menginfeksi warga yang mengonsumsi ikan tanpa dimasak dengan matang.

Organisasi kesehatan dunia atau WHO memperkirakan 9 juta warga di sepanjang Sungai Mekong telah terinfeksi, sementara 67 juta lainnya terancam nasib yang sama. Jika tak segera diobati, warga yang terinfeksi akan mengalami kanker empedu atau cholangiocarcinoma beberapa tahun kemudian.

Pada orang yang terinfeksi cacing ini, kanker empedu akan berkembang ketika memasuki umur 40-50 tahun. Oleh karena itu, dinas kesehatan di beberapa wilayah tersebut menganjurkan warga mulai melakukan pemeriksaan tinja sejak memasuki umur 30 tahun.

"Warga yang berumur 30 harus periksa tinja, sedangkan yang berumur 40 tahun harus memeriksakan gejala kanker dengan ultrasonik," ungkap Pongsadhorn Pokpermdee dari dinas kesehatan Provinsi Nongbualanpoo, Thailand seperti dikutip dari Reuters, Jumat (1/7/2011).

Jika positif ditemukan ada tumor di saluran empedu, maka warga yang bersangkutan harus langsung dioperasi. Sementara jika belum ada kanker, cacing pita di dalam tubuhnya harus diusir dengan obat cacing yang diberikan gratis yakni Praziquantel.

Dibandingkan pada wanita, cacing ini lebih banyak menginfeksi warga berjenis kelamin pria dengan perbandingan 3:1. Waktu yang dibutuhkan sejak terinfeksi terjadi hingga munculnya kanker relatif lama yakni 10-20 tahun, namun seringkali tidak didahului gejala awal.

Warga di sepanjang Sungai Mekong, khususnya di Thailand gemar mengonsumsi makanan berbahan ikan mentah atau setengah matang yang dinamakan Koi-pla. Makanan khas Thailand ini juga populer di wilayah lain di Asia termasuk Hong Kong dan Singapura.

(up/ir)



View the Original article
Continue Reading »

Lomba Puskesmas Peduli Kanker Serviks

Lomba Puskesmas Peduli Kanker Serviks

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.



img
foto: ThinkstockJakarta, Puskesmas merupakan salah satu ujung tombak pencegahan serviks atau leher rahim. Untuk lebih memacu upaya skrining dan pencegahan, Inisiatif Pencegahan Kanker Serviks Indonesia (IPKASI) menggelar lomba Puskesmas Peduli Kanker Serviks.

Lomba ini akan diikuti oleh 44 Puskesmas tingkat kecamatan yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta dan akan dipilih satu Puskesmas yang paling aktif melakukan pencegahan kanker serviks. Puskesmas dipilih sebaga sasaran program ini karena bisa menjangkau kelompok masyarakat terkecil.

Selain lomba, dalam program ini juga akan digelar lokakarya tentang pencegahan kanker serviks yang akan diikuti oleh para kepala Puskesmas. Lokakarya akan diisi dengan mengenalkan program khusus bagi tenaga medis untuk menyediakan materi pendukung edukasi kanker serviks.

Salah seorang pendiri sekaligus anggota Dewan Komite IPKASI, Dr dr Laila Nuranna SpOG(K) mengatakan program ini diharapkan bisa membantu mencapai target cakupan pencegahan berupa skrining kanker serviks sebesar 80 persen di seluruh DKI Jakarta.

"Dari 1,7 juta perempuan penduduk Jakarta yang berisiko kami menargetkan pada tahun 2017 sebesar 80 persen atau 1,4 juta sudah dapat diskrining," ungkap Dr Laila dalam rilis yang diterima detikHealth, Jumat (1/7/2011).

Menurut data Dinkes DKI Jakarta, saat ini deteksi dini kanker serviks sudah bisa dilakukan di 14 Puskesmas tingkat kecamatan. Beberapa Puskesmas bahkan sudah bisa melakukan Cryoterapi, yakni terapi untuk mematikan kanker serviks bagi yang terdiagnosis poisitif.

Sementara jenis skrining yang bisa dilakukan di 14 Puskesmas tersebut umumnya berupa pap smear dan Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA). Sskrining dengan metode IVA banyak digunakan karena biayanya relatif murah, namun tingkat akurasinya cukup tinggi.

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita perempuan Indonesia. Jenis kanker ini banyak menewaskan penderitanya karena seringkali baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut sehingga sulit disembuhkan atau bahkan sudah menyebar.

Pemicu kanker serviks salah satunya Human Papilloma Virus (HPV) terutama tipe 16 dan 18. Ada 2 jenis pencegahan yang harus dilakukan secara bersamaan untuk mengurangi risiko kanker serviks, yakni melalui vaksinasi serta deteksi dini yakni skrining pap smear atau IVA.


(up/ir)



View the Original article
Continue Reading »

24 Maret 2011

Jangan Sepelekan Polip Jika Tak Ingin Kena Kanker Usus Besar

Vera Farah Bararah - detikHealth

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)Jakarta, Selama ini banyak orang yang belum terlalu peduli dengan kanker kolorektal (kanker usus besar). Tapi bagi yang memiliki polip di usus sebaiknya waspada, karena 40-60 persen kasus kanker kolorektal berasal dari polip.

"Pernah memiliki polip (kutil) di saluran cerna maka ada kemungkinan dalam waktu 5-10 tahun bisa berubah menjadi kanker kolorektal, tapi hal ini bisa dicegah dengan melakukan deteksi dini," ujar dr Paulus Simadibrata, SpPD dalam acara jumpa pers Penanggulangan Kanker Kolorektal di Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) Siloam Semanggi, Rabu (23/3/2011).

Kanker usus besar atau kolorektal adalah kanker yang tumbuh pada usus besar atau rektum. Kanker kolorektal merupakan jenis penyakit ganas yang paling dipengaruhi oleh lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat. Diketahui bahwa kanker kolorektal menjadi penyebab kematian kedua akibat kanker.

dr Paulus menuturkan untuk kasus kanker kolorektal biasanya dari polip yang berukuran lebih dari 1 cm, termasuk dalam jenis polip adenoma serta dipengaruhi pula oleh faktor lingkungan (merokok atau terkena paparan bahan kimia).

"Sekitar 40-60 persen kasus kanker kolorektal ini berawal dari polip dan biasanya orang datang sudah dalam stadium lanjut," ujar dr Paulus.

Jika polip yang ada di saluran cerna kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan kebanyakan ditemukan secara tidak sengaja, tapi jika polipnya besar biasanya disertai dengan timbul rasa nyeri.

"Seseorang yang memiliki polip lebih dari 1 cm meskipun sudah diangkat, tetap harus melakukan evaluasi secara rutin seperti melakukan kolonoskopi setiap 2-3 tahun sekali," ujarnya.

Sedangkan untuk kanker kolorektal sendiri umumnya tidak memiliki gejala yang spesifik pada stadium dini sehingga seringkali diabaikan.

Gejala-gejala kanker kolorektal yang muncul jika sudah masuk stadium lanjut adalah:

Perubahan pola buang air besar (BAB). Misalnya dari normal menjadi sulit BAB atau justru diareRasa nyeri di perut kanan bawah jika terkena pada usus besarMengalami pendarahan di feses.
"Tingkat kesembuhan kanker kolorektal stadium dini (belum menembus dinding usus) dalam waktu 5 tahun sebesar 90 persen, tapi jika sudah stadium lanjut (sudah menembus dinding usus dan mungkin sudah menyebar) tingkat kesembuhannya dalam waktu 5 tahun hanya sebesar 10 persen," ungkapnya.

Pilihan pengobatan yang bisa dilakukan untuk menangani kanker kolorektal tergantung pada stadium, posisi dan ukurannya serta penyebarannya. Bisa menggunakan pembedahan, radiasi, kemoterapi dan juga terapi fokus sasaran (targeted theraphy).

Hingga kini belum diketahui dengan pasti apa penyebab dari kanker kolorektal, tapi kemungkinan dipengaruhi oleh konsumsi rendah serat, banyak mengonsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi serta pengaruh lingkungan.

Untuk mendeteksi dini kanker kolorektal bisa dengan melakukan pemeriksaan darah samar tinja, jika hasilnya positif maka dilanjutkan dengan melakukan kolonoskopi untuk mengetahui apakah ada polip atau kanker.

Namun umumnya masyarakat masih enggan melakukan skrining karena merasa tidak nyaman, malu, takut, mengganggap bahwa skrining tersebut berbahaya dan harganya mahal. Padahal pemeriksaan ini tidak semenakutkan dan semahal yang dibayangkan.

dr Paulus menyarankan bagi seseorang yang pernah memiliki polip di saluran cernanya atau ada risiko kanker dalam keluarga 1 derajatnya (orangtua, anak dan saudara kandung) agar melakukan uji skrining untuk mengetahui ada polip atau kanker.

"Dengan melakukan uji skrining maka bisa menurunkan angka kesakitan dan angka mortalitas sebesar 30-40 persen," ujarnya.

(ver/ir)


View the Original article
Continue Reading »

Penggunaan Kaporit untuk Memutihkan Air Bisa Picu Kanker

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.




foto: ThinkstockDepok, Teknologi yang dipakai oleh perusahaan air minum (PAM) saat ini dinilai sudah ketinggalan zaman dan malah bisa membahayakan kesehatan. Kaporit untuk memurnikan air bisa memicu kanker jika digunakan secara berlebihan dan terus menerus.

"Di banyak negara, chlor (kaporit) sudah mulai ditinggalkan dan diganti teknologi lain yang lebih aman misalnya ultraviolet," ungkap pakar teknik lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr Ir Setyo Sarwanto Mursidik, dalam seminar "Pencemaran Air Minum: Dampak Kesehatan dan Solusinya" di kampus FKM UI Depok, Senin (21/3/2011).

Menurut Ir Setyo, kaporit dalam air PAM sebetulnya tidak banyak. Untuk menjaga kualitas bakteriologis di jaringan terjauh, kaporit hanya dibutuhkan sebanyak 0,2 ppm.

Namun karena buruknya jaringan PAM terutama di kota besar seperti Jakarta, kaporit yang digunakan bisa lebih banyak agar bisa menjangkau pelanggan yang jaraknya cukup jauh. Akibatnya, kadarnya bisa lebih tinggi dari yang seharusnya yakni 0,2 ppm.

"Di kolam renang saja kita bisa merasakan sendiri, kaporit yang terlalu tinggi bisa menyebabkan iritasi kulit apalagi jika diminum, masuk saluran pencernaan. Chlor atau chlorin bersifat karsinogenik sehingga bisa menyebabkan kanker," ungkap Ir Setyo.

Ir Setyo menambahkan, secara teknis tidak mungkin ada solusi tunggal untuk mengatasi masalah pencemaran air. Penggunaan kaporit tidak bisa digantikan dengan satu metode saja, melainkan harus mengombinasikan berbagai metode pemurnian air agar hasilnya lebih aman.

Ia mencontohkan, metode pemurnian air yang bisa dikombinasikan adalah reverse osmosis (RO). Metode ini dinilai paling ekonomis dan mampu menghilangkan 90-99 persen kontaminan, termasuk bakteri dan material organik berukuran di atas 300 dalton.

Namun karena melibatkan membran-membran yang sangat ketat, metode ini menghasilkan laju aliran yang lambat. Keterbatasan ini membuat metode RO tidak bisa mengolah air dalam jumlah banyak, sehingga tetap harus dikombinasikan dengan metode yang lain.

(up/ir)


View the Original article
Continue Reading »