Stats

Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah. Tampilkan semua postingan

04 Juli 2011

Waspadalah dengan Bantal di Rumah Sakit

London (ANTARA News) - Para pasien rumah sakit hendaknya mewaspadai bantal-bantal di rumah sakit. Ada kemungkinan bantal-bantal itu dapat menjadi media penularan dari berbagai jenis virus, demikian hasil sebuah studi terbaru.

Untuk itu, para perawat dianjurkan mencuci tangannya secara teratur dan memberi cairan pembunuh kuman pada kasur dan bantal. Perangkat-perangkat rumah sakit itu dapat menyebabkan pasien terinfeksi bakteri.

Serpihan kulit mati, guguran butir-butir ketombe, dan cairan beracun dapat melekat di bantal rumah sakit. Pasien dapat tertular berbagai penyakit, antara lain influenza, cacar air, hepatitis, bahkan lepra, sebagaimana dikutip dari laman Telegraph.

Penelitian oleh Barts dan The London NHS Trust menemukan bahwa bantal-bantal rumah sakit "menyimpan" 30 jenis bakteri yang dapat menginfeksi tubuh manusia.

Kain linen yang banyak digunakan di tempat tidur pasien agar dicuci secara rutin, kata studi itu pula. Ini lantaran bantal dapat menjadi media penularan berbagai bakteri.

Dianjurkan pula agar rumah sakit membersihkan bekas tetesan airmata pasien. Ini lantaran pasien dapat terinfeksi melalui hidung, mulut, telinga, kata laporan itu.
(A024)


View the Original article
Continue Reading »

24 Maret 2011

Susahnya Membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.




(Foto: thinkstock)Jakarta, Misi kemanusiaan di daerah konflik sering terkendala minimnya dukungan. Hal ini dialami juga oleh Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), yang merasa tak didukung pemerintah ketika akan membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina.

"Dengan atau tanpa dukungan pemerintah, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza akan tetap jalan. Kami hanya menyesalkan pemerintah yang melupakan komitmen awal," ungkap ketua presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis saat dihubungi detikHealth, Selasa (22/3/2011).

Sikap Jose Rizal cukup beralasan, mengingat pada awalnya pemerintah sudah menunjukkan dukungannya terhadap rencana pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, Palestina. Sejak pertengahan tahun 2009, rencana pembangunan rumah sakit yang akan difungsikan sebagai trauma center dan pusat rehabilitasi ini sudah dibicarakan di tingkat menteri.

Namun harapan Jose Rizal untuk mendapat dukungan dana dari pemerintah seakan kandas ketika pada Februari 2010, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menandatangani perjanjian kerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB). Dana yang sedianya akan disumbangkan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia, dialihkan untuk membangun cardiac center yang berlokasi di Gaza City.

Dalam rilisnya waktu itu, Menkes berdalih bahwa pembangunan Rumah Sakit Indonesia terkendala masalah tanah. Padahal menurut Jose Rizal, sejak tahun 2009 MER-C telah mendapatkan tanah wakaf dari pemerintah Palestina untuk membangun rumah sakit di perbatasan Gaza Utara dengan Israel.

Masalah perizinan juga sudah tidak ada masalah, karena menurut Jose Rizal rencana ini cukup didukung oleh Kementerian Kesehatan Palestina. Bisa dipahami karena saat ini hanya ada 1 rumah sakit di lokasi yang tergolong rawan konflik tersebut, sehingga sangat tidak memadai ketika terjadi peperangan.

Dari negara lain, Jose Rizal mengatakan hingga kini belum ada yang berani menjalankan misi kemanusiaan di wilayah tersebut apalagi untuk membangun rumah sakit. Selain sulit mendapatkan bahan bangunan, kondisi wilayah yang sehari-hari dilanda konflik membuat siapapun tidak akan betah tinggal di Gaza Utara.

"Sementara 7 orang relawan kami sudah 8 bulan tinggal di sana, menjalankan misi kemanusiaan tanpa dibayar sepeserpun. Dana yang kami gunakan sepenuhnya murni dari sumbangan rakyat Indonesia, tidak ada dana asing sama sekali," ungkap Jose Rizal.

Andai pemerintah benar-benar tidak membantu, Jose Rizal bertekad tetap akan melanjutkan rencana pembangungan Rumah Sakit Indonesia yang saat ini sudah memasuki tahap pelelangan tender. Sedikitnya 5 kontraktor sudah menunjukkan minatnya, sementara MER-C sendiri masih memiliki dana sekitar Rp 15 miliar.

"Perhitungan awal kami dana Rp 15 miliar cukup untuk membiayai proyek ini, bantuan dari pemerintah Indonesia tadinya hanya untuk finishing saja. Tapi karena ada penambahan basement untuk memenuhi standar keamanan daerah konflik, kami masih butuh tambahan dana sekitar Rp 30 miliar," ungkap Sekretaris Eksekutif MER-C, Rima Manzanaris.

(up/ir)


View the Original article
Continue Reading »

Alasan MER-C Membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Your browser does not support iframes.




foto: ThinkstockJakarta, Banyak cibiran dialamatkan kepada MER-C terkait rencananya membangun rumah sakit di Gaza, Palestina. Meski menyadari Indonesia sendiri masih kekurangan rumah sakit, MER-C punya alasan untuk tetap menjalankan misi kemanusiaan tersebut.

"Kami menyalurkan bantuan sesuai amanah yang diberikan. Dana untuk proyek ini adalah bantuan rakyat Indonesia untuk korban perang di Gaza," ungkap Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), dr Jose Rizal Jurnalis, SpOT saat dihubungi detikHealth, Selasa (22/3/2011).

dr Jose membantah jika dikatakan MER-C tidak mengutamakan pembangunan rumah sakit di Indonesia. Tapi menurutnya, karena amanah yang diberikan pendonor memang menyebutkan daerah mana yang akan dibangun rumah sakit tersebut.

Sementara untuk membantu daerah lain di wilayah Indonesia, MER-C punya dana sendiri yang memang dibedakan dari bantuan untuk Gaza. dr Jose yang juga seorang dokter spesialis bedah tulang itu mengatakan MER-C sudah membangun sejumlah pusat layanan kesehatan di Indonesia.

Di antaranya berupa klinik rawat inap di Panga Aceh Jaya, untuk membantu korban tsunami beberapa tahun silam. MER-C juga membangun layanan serupa di daerah Piyungan, salah satu wilayah terparah saat gempa melanda Daerah Istimewa Yogyakarta serta di wilayah Galela, Halmahera Utara.

Sementara di Gaza, Jose Rizal menilai dari sisi kemanusiaan wilayah tersebut sangat membutuhkan keberadaan rumah sakit yang memadai. Ketika negara lain tidak ada yang berani menetap, 7 relawan Indonesia yang tergabung dalam MER-C hingga kini sudah tinggal selama 8 bulan untuk mengawal proyek rumah sakit yang akan ditujukan sebagai trauma center dan pusat rehabilitasi ini.

Sebagai wilayah yang rawan konflik karena berbatasan langsung dengan Israel, Gaza Utara yang berada di wilayah Palestina ini sangat membutuhkan rumah sakit yang memadai. Saat ini hanya tersedia 1 rumah sakit yakni RS Asy Syifa, yang tidak pernah mampu menampung seluruh korban jika sedang terjadi peperangan.

Meski lokasi dan perizinan sudah beres, proyek yang digagas MER-C saat ini masih terkendala kekurangan dana. Bantuan yang semula dijanjikan oleh pemerintah Indonesia dialihkan untuk membangun Indonesian Cardiac Center hasil kerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB) yang berlokasi di RS Shifa, Gaza City.

Demi alasan kemanusiaan memang harusnya tidak ada keraguan untuk menolong sesama. Meski Indonesia bukan negara kaya bukan berarti menutup mata tidak menolong negara lain yang sedang menderita.

(up/ir)


View the Original article
Continue Reading »

21 Maret 2011

Ilonthera, Rumah Terapi Gratis Pasien HIV-AIDS


Artikel Terkait Dari Ratnawati untuk Tuna Rungu Yossiady, Penyulap Desa Wisata Budaya Riedl Bawa Timnas Meraih Mimpi 20/03/2011 13:22 | Sosok Liputan6.com, Bandung: Sebuah rumah asri di kawasan Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat, digunakan sebagai tempat pemulihan puluhan pasien pengidap HIV-AIDS yang tidak mampu. Tempat ini biasa disebut Rumah Terapi Ilonthera. Penyembuhannya dilakukan dengan terapi jiwa, intuisi, visualisasi, pemberian air heksagonal, terapi urine, serta terapi energi.

Pemilik rumah terapi ini adalah Richard Claproth, mantan Sekretaris Jenderal Kementerian BUMN yang juga dikenal sebagai pakar hipnoterapi. Semuanya berawal pada tahun 2000 ketika sang istri tercinta meninggal dunia setelah dokter memvonisnya mengidap kanker. Menurut dokter, tak ada yang bisa dilakukan untuk penyembuhan. "Padahal, menurut saya seharusnya setiap penyakit bisa diobati," ujar Richard.

Pria kelahiran Ambon, Maluku, 58 tahun lalu ini mengolah 40 jenis herbal yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk HIV-AIDS yang sudah terdaftar di Departemen Kesehatan sejak 2004.

Semua ramuan itu didapat Richard dari berbagai petunjuk seperti mimpi, membaca buku, dan bertemu banyak orang dari berbagai disiplin ilmu, yang kemudian digabungkan dan hasilnya menjadi bentuk pengobatan, di antaranya untuk demam berdarah dan malaria. "Semuanya gratis, tidak ada agenda di belakang itu, betul-betul sifatnya melayani, sesuai dengan kepercayaan saya," jelasnya.

Richard memilih Jabar sebagai lokasi rumah terapinya karena saat ini Jabar adalah provinsi dengan penderita AIDS nomor satu di Indonesia dan nomor tiga di dunia. Ia dan para donatur mengeluarkan Rp 200 juta hingga Rp 300 juta sebagai biaya operasional per bulannya. Biaya terbanyak dikeluarkan untuk tes darah berkala.

Dari 70 pasien yang menjalani terapi selama enam bulan, 33 di antaranya sudah tak terdeteksi virusnya. Ami, salah seorang pasien, menuturkan bahwa sekarang perasaannya sudah jauh lebih nyaman dan tidak terlalu memikirkan penyakit HIV-AIDS yang diidapnya. Sebelumnya, mental Ami benar-benar terguncang. "Beberapa kali saya minta sama dokter untuk disuntik mati saja, tapi dokternya tidak mau," cerita Ami tentang masa lalunya.

Kesembuhan pasien memang ditentukan oleh kedisiplinan. Namun, ada pula yang kondisinya naik turun. Tak jarang pula yang langsung sembuh. Untuk membuat kesembuhan lebih optimal, rumah terapi menyediakan fasilitas menginap yang dilayani oleh 27 staf, termasuk dokter dan perawat 24 jam. Filosofi Richard untuk selalu melayani sesama tersebut didukung penuh keluarga.

Kedepan, bapak lima anak ini berencana membangun rumah terapi AIDS dan bekerja sama dengan rumah tahanan di sejumlah kota di Indonesia. Richard juga akan menjual bebas herbal temuannya agar HIV-AIDS tidak lagi menjadi halangan seseorang untuk hidup normal.(ADO)





View the Original article
Continue Reading »