Stats

Tampilkan postingan dengan label Terkait. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terkait. Tampilkan semua postingan

05 Juli 2011

Daging Berpengawet Tidak Terkait dengan Kanker Pankreas

London (ANTARA News) - Penelitian baru mengatakan tidak ada tanda jelas bahwa makan daging berpengawet seperti ham, daging asap atau hot dogs bisa meningkatkan kemungkinana menderita kanker pankreas.

Seperti dikutip dari Reuters, beberapa riset menunjukkan bahwa mungkin kasusnya, karena pengawet yang digunakan untuk mengawetkan, nitrat dan nitrit, menyebabkan tumor pada hewan percobaan.

Para ilmuwan sudah melakukan penyelidikan untuk mengenai faktor-faktor yang bisa memicu kanker pankreas. Setiap tahun, sebanyak 43.000 orang Amerika didiagnosa menderita penyakit itu, dan 95 persen meninggal dalam lima tahun.

"Pencegahan benar-benar cara terbaik untuk menyelamatkan satu nyawa," kata Dr. Daniel Chang, seorang spesialis kanker di Universitas Stanford di Palo Alto, California, yang tidak terlibat dalam penelitian baru itu.

Untuk menyelidiki peran unsur kimia pengawet, para peneliti dari National Cancer Institute menggunakan kuesioner 124 jenis makanan untuk mengetes seberapa banyak nitrat dan nitrit yang diperoleh orang dari pola makan mereka.

Diantara lebih dari 300.000 orang yang mengisi kuesioner, hanya lebih dari 1.000, kira-kira sepertiga dari satu persen, mengembangkan kanker pankreas selama 10 tahun ke depan.

Berdasarkan penelitian, para pria yang paling banyak makan bahan pengawet tampak memiliki peluang lebih besar untuk mengidap penyakit itu, tetapi kenaikannya sangat kecil mungkin juga karena kebetulan. Tidak ada petunjuk dari risiko lebih besar di antara perempuan.

Penelitian baru itu menambahkan bukti pertumbuhan tubuh yang gagal mengaitkan kanker pankreas dengan makanan atau gizi tertentu, seperti diet serat dan vitamin D.

"Kami tidak memiliki kecenderungan konsisten dari penelitian yang menunjukkan bahwa makan lebih banyak bahan ini atau lebih sedikit jelas berkontribusi dengan risiko kanker pankreas," kata Dr. Andrew Ko, seorang peneliti kanker di University of California, San Francisco.

Para penulis, yang laporannya dipublikasikan dalam "American Journal of Epidemiology", tidak bisa dimintai komentar.

Tanpa memperhatikan apakah daging yang diawetkan terkait dengan kanker pankreas, para pakar mengatakan penelitian tidak berarti orang tidak harus berjuang untuk makan makanan sehat kaya buah-buahan dan sayuran, dan sedikit makanan berlemak seperti daging berpengawet.

"Ada sejumlah alasan bagus untuk menerapkan kebiasaan meningkatkan pola makan - tidak hanya demi pencegahan kanker," kata Dr. Al Benson, seorang pakar kanker di Feinberg School of Medicine Northwestern University di Chicago, Amerika Serikat. "Kami secara rutin merekomendasikan orang-orang membatasi asupan makanan berlemak, dan banyak dari produk hewani ini juga mengandung nitrit dan garam nitrat."

Merokok, makan banyak gula, dan menjadi kelebihan berat badan semua dikaitkan pada risiko lebih tingi kanker pankreas dalam penelitian sebelumnya.

"Umumnya, yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk mencegah kanker pankreas dan kanker lainnya, adalah untuk mendorong orang-orang menghindari rokok, menghindari obesitas, dan menerapkan kebiasaan pola makan yang ditingkatkan."
(ENY)

View the Original article
Continue Reading »

04 Juli 2011

Banyak Minum Alkohol Terkait Risiko Pneumonia

New York (ANTARA News) - Penelitian baru dari Denmark, menunjukkan bahwa peminum berat  alkohol lebih sering berakhir di rumah sakit karena pneumonia (radang paru-paru) daripada mereka yang berhati-hati pada alkohol.

Tetapi, hanya peminum terbanyak - pria yang mengatakan mereka minum lebih dari 50 minuman dalam seminggu - yang berisiko lebih tinggi terkena infeksi.

Penelitian itu bukan yang pertama menggambarkan garis antara alkohol dan pneumonia. Para peneliti belum yakin bahwa minum alkohol menimbulkan pneumonia - alkohol bisa dikaitkan dengan penyakit kronos seperti liver dan gangguan jantung, contohnya.

Dalam laporan belum lama ini, Dr Reimar Wernich Thomsen, dari Aarhus University Hospital, dan rekan-rekannya menggunakan data dari penelitian penelitian luas kesehatan Denmark, termasuk lebih dari 45.000 orang berusia 50 hingga 64 tahun, yang tidak pernah mengidap pneumonia.

Semua partisipan mengisi survei pada awal penelitian, yang termasuk pertanyaan mengenai seberapa sering mereka minum bir, anggur dan minuman keras. Para perempuan dilaporkan rata-rata minum enam minuman setiap minggu, sementara para pria mengatakan mereka mereka minum 12 minuman per minggu.

Selama 12 tahun ke depan, kira-kira empat persen peserta masuk rumah sakit karena pneumonia.

Para peneliti melaporkan dalam "European Respiratory Journal", tanpa memperhatikan seberapa banyak mereka mengatakan mereka minum, mulai dari nol hingga lebih dari 35 minuman setiap minggu - para perempuan memiliki risiko pneumonia serupa.

Bagaimanapun juga, pria yang minum lebih dari 50 minuman setiap minggu kira-kira 80 persen lebih cenderung masuk rumah sakit karena pneumonia daripada mereka yang minum antara satu dan enam setiap minggu, setelah menghitung faktor seperti merokok dan berat badan.

Kira-kira satu dari tiga puluh pria minum dengan cukup untuk menempatkan dirinya dalam kategori itu.

Saat Thomsen dan rekan-rekannya juga memperkirakan penyakit kronis lain yang dikembangkan pria, kaitan antara alkohol dan pneumonia tetap ada, tetapi lebih lemah.

"Gagasan umumnya adalah alkohol merusak sistem kekebalan, setiap bagian sistem kekebalan," kata Dr. Andriy Samokhvalov, dari Toronto's Center for Addiction and Mental Health, yang tidak terlibat dalam penelitian baru, seperti dikutip Reuters.

Bila minum secara berlebihan mengantar pada pneumonia, seberapa banyak tepatnya minuman yang dibutuhkan seseorang untuk meningkatkan risiko masih belum pasti. Dan, itu tidak membantu karena penelitian mengandalkan laporan konsumsi minum mereka sendiri, yang akan memperlemah hasilnya.

Berdasarkan Samokhvalov,"Kami pikir seharusnya ada ambang penerimaan isyarat mengenai minum empat kali per hari."

Baik pria dan wanita memiliki risiko pneumonia lebih tinggi bila mereka jarang  minum dalam dosis tinggi, daripada mabuk selama seminggu.

Para peneliti setuju masuk akal bila orang yang mabuk-mabukan dan tidak sadar akan menghambat sistem kekebalan mereka.

Dr. Marjolein de Wit, mengatakan bahwa orang yang sering minum juga memiliki risiko lebih tinggi mendapat infeksi seperti pneumonia di rumah sakit saat mereka mengaku untuk alasan lain. Dan, saat mereka terinfeksi, risiko kematian mereka lebih tinggi. De Wit mempelejari alkohol dan penyakit kritis di Virginia Commonwealth University di Richmond.
(ENY)



View the Original article
Continue Reading »